Indonesia Bertujuan menjadi Ibukota Busana Islam pada 2020

Indonesia Bertujuan menjadi Ibukota Busana Islam pada 2020


Popularitas hijab dan busana muslim di Indonesia telah meningkat. Semakin banyak wanita Indonesia mengenakan cadar atau jilbab di pasar mayoritas Muslim terbesar di dunia. Pakaian muslim telah berevolusi dari gerakan agama dan budaya menjadi tren fashion dan industri yang berkembang pesat.

Indonesia Bertujuan menjadi Ibukota Busana Islam pada 2020
Meningkatnya permintaan untuk pakaian Islam telah mendorong pertumbuhan industri fashion Muslim domestik. Dalam waktu yang relatif singkat, pakaian muslim telah menjadi segmen penting dari industri tekstil nasional
Meningkatnya permintaan untuk pakaian Islam telah mendorong pertumbuhan industri fashion Muslim domestik. Dalam waktu yang relatif singkat, pakaian muslim telah menjadi segmen penting dari industri tekstil nasional (Lihat Industri Tekstil Indonesia – Pengujian Kali Hulu). Sektor ini telah berubah dari asal-usulnya dalam industri rumah tangga dan usaha kecil dan menengah (UKM) dan untuk manufaktur berskala besar saat ini.

Evolusi jilbab di Indonesia
Sebelum era Orde Baru, wanita Muslim di Indonesia menggunakan syal panjang untuk menutupi rambut mereka. Dari tahun 1980-an, jilbab atau jilbab yang menutupi rambut secara ketat diperkenalkan ke Indonesia. Namun, penggunaan jilbab di sekolah umum dan lembaga pemerintah dibatasi sementara oleh pemerintahan Soeharto; Meskipun ini tidak menyurutkan mayoritas umat Islam Indonesia dari mengamati apa yang mereka rasakan sebagai kewajiban agama mereka. Kenaikan jumlah perempuan yang mengamati hijab di Indonesia telah melahirkan industri pakaian muslim yang menguntungkan. Sejak awal tahun 2000, sektor ini telah berkembang pesat karena lebih muda, wanita urban mematuhi jilbab. Segmen fashion-councious baru ini menuntut pakaian Muslim yang tidak hanya menutupi rambut dan tubuh, tetapi juga menampilkan gaya dan desain yang menarik.

Untuk memenuhi permintaan ini, sejumlah desainer muda dan kreatif yang mampu mendesain fashionable dan tren mode Muslim muncul. Ini termasuk meningkatnya bintang seperti Ms Dian Pelangi yang disebut sebagai salah satu dari 500 orang paling berpengaruh di industri fashion oleh majalah yang berbasis di Inggris, Business of Fashion. Bahkan, sejumlah tokoh mapan di industri fashion lokal seperti Mr Itang Yunasz telah pindah ke desain pakaian muslim dan telah memanfaatkan pasar ceruk yang berkembang pesat ini. Fesyen Islam di Indonesia juga tidak lagi hanya berfokus pada pelanggan wanita tetapi juga menargetkan pelanggan pria dengan meluncurkan lini pakaian koko atau taqwa.

Menumbuhkan pasar dan pelanggan
Pasar jilbab di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga segmen; pertama, cadar sederhana dan praktis yang digunakan oleh 60-70% wanita Indonesia. Kerudung ini dijual dalam berbagai warna dan model dengan harga terjangkau; kedua, cadar shariah yang digunakan oleh 10% perempuan Indonesia. Jenis cadar ini lebih panjang dan tersedia dalam warna konservatif seperti putih, hitam dan coklat; terakhir, jilbab modis yang digunakan oleh wanita kelas menengah perkotaan yang datang dalam berbagai warna dan gaya dan dijual dengan harga premium.

Pasar jilbab Indonesia masih didominasi oleh model kerudung yang praktis dan sederhana dengan harga di bawah 50.000 IDR untuk jilbab dan kurang dari Rp. 200.000 untuk sebuah gaun. Meskipun margin keuntungan rendah, permintaan dan volume penjualannya tinggi yang membuat segmen ini sangat menguntungkan. Sebaliknya, jilbab modis yang dijual di atas titik harga Rp 200.000 dan bahkan jutaan Rupiah relatif terbatas tetapi menawarkan margin laba yang tinggi. Peluang pasar untuk produk hijab di Indonesia masih terbuka lebar, baik untuk segmen low-end maupun high-end karena jumlah pemain yang relatif rendah di sektor ini. Selain itu, permintaan untuk produk hijab yang mutakhir dan canggih tidak hanya terbatas pada pasar domestik tetapi juga pasar regional dan internasional, mengingat keunggulan Indonesia sebagai pusat mode Islami.Indonesia Bertujuan menjadi Ibukota Busana Islam pada 2020

Toko pakaian muslim juga dapat ditemukan di pasar tradisional dan mal modern dengan Tanah Abang dan Thamrin City secara bertahap menjadi pusat grosir pakaian Islami, menarik pemilik toko dari seluruh negeri untuk membeli barang-barang terbaru untuk dijual di toko mereka. Ada juga toko-toko butik yang bertujuan konsumen kelas atas dengan merek seperti Shafira, Zara, dan Rabbani, antara lain. Selain itu, seiring meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia, situs e-commerce yang menawarkan pakaian Islami telah menjamur dengan merek seperti Nibras, Zoya, Hijup, Hijabenka dan Elhijab, menawarkan beragam portofolio produk untuk semua segmen konsumen. Pemasaran online digabungkan dengan skema pengecer dan dropship menawarkan biaya operasi yang lebih rendah dan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas karena tidak adanya batasan geografis. Dengan demikian, pakaian muslim telah menjadi komoditas yang sangat dicari dan industri yang berkembang pesat di Indonesia.

Data dari Kementerian Perindustrian Indonesia mengungkapkan bahwa

 

 

Trend Hijab Masa Kini